Konservasi Lingkungan

Awal mula terbentuknya acara Eyes Of Science Education (atau lebih sering disebut EOS) ini berawal dari perbincangan dari pihak Program Studi dan Himpunan Mahasiswa Pendidikan IPA (HIMASA). Dengan beberapa pertimbangan konsep maupun alur, acara tersebut akan dilaksanakan rutin dan menjadi salah satu agenda unggulan dalam program kerja HIMASA. Tujuannya untuk memberikan wawasan yang lebih bagi mahasiswa/i Pendidikan IPA dalam meningkatkan potensi, kreativitas serta pengetahuan terkini yang bisa didapat dari narasumber-narasumber pada kegiatan tersebut.

Acara pertama EOS kali ini dibuka dan diresmikan oleh Bapak Arif Sholahuddin, M. Si selaku ketua Program Studi Pendidikan IPA, beliau memberikan sambutan serta penjelasan secara singkat mengenai maksud dan tujuan kegiatan yang dilaksanakan. Kegiatan EOS yang pertama ini bertemakan “Konservasi Lingkungan” yang memfokuskan pada satwa endemik Kalimantan yaitu Bekantan dan habitatanya. Narasumber yang didatangkan yaitu ibu Rezky Amelia, M.Pd seorang aktivis pecinta lingkungan dan konservasi bekantan.

Bekantan atau dalam nama ilmiahnya Nasalis larvatus adalah sejenis monyet berhidung panjang dengan rambut berwarna coklat kemerahan dan merupakan satu dari dua spesies dalam genus tunggal monyet Nasalis.

Proboscis.jpg

Gambar 1. Bekantan (Nasalis Larvatus)

Ciri-ciri utama yang membedakan bekantan dari monyet lainnya adalah hidung panjang dan besar yang hanya ditemukan di spesies jantan. Fungsi dari hidung besar pada bekantan jantan masih tidak jelas, namun ini mungkin disebabkan oleh seleksi alam. Monyet betina lebih memilih jantan dengan hidung besar sebagai pasangannya. Karena hidungnya inilah, bekantan dikenal juga sebagai monyet Belanda. Spesies ini juga memiliki perut yang besar, sebagai hasil dari kebiasaan mengonsumsi makanannya. Selain buah-buahan dan biji-bijian, bekantan memakan aneka daun-daunan, yang menghasilkan banyak gas pada waktu dicerna. Ini mengakibatkan efek samping yang membuat perut bekantan jadi membuncit.

Bekantan tersebar dan endemik di hutan bakau, rawa dan hutan pantai di pulau Borneo (Kalimantan, Sabah, Serawak dan Brunai). Spesies ini menghabiskan sebagian waktunya di atas pohon dan hidup dalam kelompok-kelompok yang berjumlah antara 10 sampai 32 monyet. Sistem sosial bekantan pada dasarnya adalah One-male group, yaitu satu kelompok terdiri dari satu jantan dewasa, beberapa betina dewasa dan anak-anaknya. Selain itu juga terdapat kelompok all-male, yang terdiri dari beberapa bekantan jantan. Jantan yang menginjak remaja akan keluar dari kelompok one-male dan bergabung dengan kelompok all-male. Hal itu dimungkinkan sebagai strategi bekantan untuk menghindari terjadinya inbreeding.

Setelah pemateri selesai memaparkan penjelasannya mengenai Konservasi lingkungan yang terpusat pada kelangsungan hidup bekantan dan habitatnya, kegiatan ini dilanjutkan pada sesi foto bersama serta penyerahan kenang-kenangan kepada narasumber yang telah mengisi materi pada acara EOS pertama kali ini.

Blog Attachment

Leave us a Comment

logged inYou must be to post a comment.